Saturday, June 2, 2012

Our Happy Time

Dan untuk pertama kalinya, saat aku melihatmu, jantung ini benar-benar berdegup kencang.

Aku melihatmu, tapi kau tidak melihatku. Aku hanya berdiam diri ketika kau melangkah ke arah yang salah. Ingin sebenarnya aku memanggilmu, tapi kau terlalu menjauh. Lalu aku berpikir, "Pasti kau pun akan kembali ke arah yang benar, ke arahku." Aku menunggu. Lama sekali rasanya menunggu kau yang sedang tersesat. Ingin aku menyusulmu. Tapi... tidak ah.

Akhirnya kulihat kau kembalii berjalan ke arah yang benar. Ke arahku. Tapi entah mengapa, aku harus berpura-pura seperti tidak sedang melihatmu. Aku hanya menunduk, memainkan ponselku. Hmm... sejujurnya, dalam hatiku aku berharap kaulah yang akan melihatku. Dan ketika aku melihat langkahmu di depanku, kau pun masih tidak melihatku. Astaga, di mana kau menaruh kedua matamu, hei anak muda?! Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau juga sedang pura-pura tidak melihatku? Kesal sekali rasanya. Ingin aku meneriakimu, memarahimu, bahwa kau benar-benar bodoh. Tapi aku hanya menyimpan rasa kesalku dalam hati.

Lalu kulihat kau berdiri di suatu tempat tak jauh dariku. Menunggu. Menunggu suatu hal yang sama denganku. Tapi di tempat yang berbeda. Aku di sini, kau di sana. Haruskah aku menghampirimu? Ya, harus. Jika tidak, kuantitas dari kualitas waktu yang akan kita habiskan bersama akan lebih sedikit. Dan dengan penuh rasa tidak keruan, aku pun menghampirimu. Kau tersenyum. Aku tersenyum. Rasa kesal yang kurasakan tadi menguap saat kita bertukar senyum. Lalu aku memanggil namamu dan kau pun memanggil namaku. Dan kita bertukar sapa. Kau terlihat sangat tampan. Selalu. Di mataku.

Kemudian aku memilih duduk. Tapi kau memilih untuk berdiri. Kita pun lalu menepikan sepi dengan berbincang-bincang, mencairkan suasana gugup yang aku rasakan. Akhirnya, kau pun memilih untuk duduk juga. Tepat di sebelah kananku. Entah mengapa, jantungku tak mau berkompromi. Lagi-lagi jantungku harus berdegup kencang. Aku begitu merasakan degupannya. Aku hanya takut. Takut kalau kau mendengar degupanku yang begitu keras. Saat berbincang-bincang, aku membaca bahasa tubuhmu. Kaki yang kau silangkan ke arahku, mata kita yang bertatap saat saling berbincang, dan bibir kita yang saling bertukar senyum saat membicarakan hal lucu.

Hal yang kita tunggu pun akhirnya hampir tiba. Aku pun mengajakmu masuk menuju tempat tujuan. Kau pun mengangguk, menyetujuinya. Akhirnya kita di tempat tujuan. Kita pun duduk bersebelahan lagi. Kali ini kau di sebelah kiriku. Kita pun menjalani semua proses dari tujuan ini. Setelah selesai, kau pun mengajakku pulang.

Akhirnya kita pun berpisah. Aku hanya mengucapkan, "Dadah, hati-hati ya..."

And I regret about something. We shouldn't separate this early. I should go with you first. I wish I could turn back time... 
So, our happy time is end. Hope we meet again...

7 comments:

  1. Aaaaaak.. suka ama tulisan mu ini fitttt.. :'))))

    ReplyDelete
  2. wuaaaaa.. makasih putih.. :D mungkin karena nulisnya pake hati yak, hahaha

    ReplyDelete
  3. ada yang nyesel niyeee... gara2 ga ngajak jalan bareng... uhuk uhuk....
    ga bisa tidur yah fit malemnya :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata siapa ga bisa tidur? bisa kok :p

      Delete
  4. iyaaa dehh.. bisa tidur tapi tetep nyesel kan :P

    ReplyDelete