Saturday, January 21, 2012

Donor Darah Yuk!

Donor Darah Yuk! ^_^
 
Mungkin masih ada beberapa dari teman-teman yang mendengar kalimat donor darah begitu menyeramkan. Terutama kalo dibayangkan kegiatan realnya. Di mana lengan kita dimasuki sebuah jarum yang cukup gede kemudian dari jarum itu mengalirlah darah kita yang akan diambil biasanya sekantung. Berapa banyak ya sekantung itu? Saya lupa...
Jujur aja, membayangkan dan melihat kegiatan donor darah itu jauh lebih menakutkan dibanding melakukan kegiatannya langsung. Lho, kok bisa? Iya bisa dong karena ini menurut pengalaman pribadi saya :) Kesimpulan yang belum bisa dipastikan kebenarannya

Jadi, sewaktu SMA, saya ini anggota PMR. Pasti pada nggak percaya. Betulan lho saya anggota PMR, walaupun abal-abal. Oke lupakan, fokus ke ceritanya. Nah, di SMA tempat saya sekolah, hampir setiap 3 bulan sekali diadakan kegiatan donor darah. Nah, saya sebagai salah satu anggota PMR, diikutkan menjadi panitia. Di mana ketika kegiatan donor darah berlangsung, saya ditugaskan untuk mendampingi alias menemani alias megajak ngobrol orang yang sedang melakukan donor darah. Sebenarnya sepele kan tugasnya. Tapi itu beneran bikin pusing. Alhasil saya nggak bertahan lama menjalankan tugas itu. Karena kepala saya malah pusing ngeliat lengan orang dipasang-cabut jarum suntik. Ditambah bau-bau obat yang, ewww... nggak enak banget.

Ketika umur saya sudah mencukupi untuk melakukan donor darah, sekitar 17 tahun kurang 3 bulan, saya pun mencoba untuk ikut donor darah. Jujur-jujuran aja nih ya. Awal motivasi saya ikut donor darah adalah karena dapat makanannya. Well, sungguh tidak patut diteladani. Tapi gimana nggak tergiur, hanya dengan ikut donor darah saya bisa dapat sekaleng Pocary Sweat, satu pop mie, susu, sama obat penambah darah. Dengan umur yang masih muda belia, namun berat badan hampir seperti ibu-ibu, maka saya pun langsung mengikuti serangkaian test untuk donor darah. Setelah ngisi form, lalu ditimbang berat badan (ini sudah pasti lolos), berat badan minimal wanita untuk melakukan donor darah adalah 45 kg. Jadi buat yang kurang dari 45 kg namun masih nekat buat donor darah, jangan sampai korupsi berat badan ya, apalagi sampai ditambah beban-beban tertentu biar terlihat tambah berat. (Jadi inget seorang teman yang melakukan hal ini). Setelah penimbangan berat badan lolos, tahap selanjutnya adalah test Hb alias Hemoglobin. Di tahap ini juga bakal diperiksa jenis golongan darah beserta rhesusnya kalian lho. Semenjak SMP, saya selalu menganggap diri saya bergolongan darah O, karena saya lebih condong mirip dengan Bapak, padahal itu saya belum pernah periksa darah lho. Nah, pas pertama kali donor darah itu, ternyata saya baru tahu kalau golongan darah saya ternyata B, mirip sama Ibu :)

Berat Hb yang bagus adalah... saya lupa, hehehe. Yang jelas, tetesan darah itu ketika dimasukan ke dalam cairan yang entah namanya apa, darahnya harus tenggelam, seenggaknya melayang. Jangan sampai terapung lah. Faktor bagus tidaknya Hb ini biasanya ditentukan oleh diri kita apakah suka begadang atau tidak, sering minum air putih atau tidak. Setelah test Hb, tahap selanjutnya adalah pemeriksaan tekanan darah. Saya yang biasanya berekanan darah rendah, alhamdulillah waktu itu normal, sehingga lulus dari serangkaian proses itu.
Dan pada tanggal 6 Maret 2007 lah untuk pertama kali saya melakukan donor darah... Nih saksi bisunya :)

Cover Depan Kartu Donor Darah
Jumlah Saya Donor Darah
Cover Belakang Kartu Donor Darah

Nggak terlalu jelas ya fotonya? Maklum, dijepret sama kamera HP yang abal-abal, hehehe :D
Dan semenjak itulah, saya menjadi ketagihan buat donor darah. Ketagihan? Kok bisa? Nggak tau saya juga. Saya merasa donor darah menjadi suatu kebutuhan buat saya. Dan semenjak itu pula motivasi utama saya nggak hanya tentang makanan lagi, cuma turun peringkat jadi nomor dua, hehehe... Dan lengan saya pun sepertinya sudah mirip saringan akibat tusukan-tusukan jarum.

Buat teman-teman yang masih donorin darah ke nyamuk, ayo coba deh donor ke manusia, hehehe. Seseorang nggak akan mati hanya karena donor darah kok. Darah kita pun nggak akan abis. Malah dengan donor darah kita bisa membantu orang-orang yang sangat membutuhkan darah, dan dapat makanan pula #tetep.
Tapi kalo memang tidak memenuhi syarat-syarat untuk donor darah, boh ya jangan dipaksakan juga. Malah nantinya tidak baik.

Oh iya, donor darah ini ada komunitasnya lho, namanya Blood For Life. Di mana kita bisa mengetahui siapa-siapa saja yang sedang membutuhkan darah sehingga kita bisa menghubungi pihak sana nya langsung kalau kita berniat mau melakukan donor. Begitu pula sebaliknya, jika kita ataupun keluarga ada yang sedang membutuhkan darah, bisa melalui BFL ini juga kok.
Yup, itu  itu sedikit pengalaman dan cerita dari donor darah. Donor darah yuk! ^_^


3 comments:

  1. Pengen donor...kan AB jarang tuh..:)

    ReplyDelete
  2. @Aep : ayok donoooorrr.. tensi aep tuh diturunin dulu :p
    @Sandy : ayo donor san, presentase orang yg golongan darah AB cuma 4% lho di dunia

    ReplyDelete