Friday, July 15, 2011

Happy Ending

Aku mematut bayanganku pada cermin yang tingginya melebihi tubuhku. Sungguh berbeda dengan aku biasanya. Tidak ada aku yang biasa memakai kemeja dan celana jeans. Kini bayanganku adalah sesosok gadis sangat anggun dengan balutan kebaya berwarna ungu muda. Kakiku yang biasa hanya menggunakan sepatu kets atau sandal jepit, berganti dengan sepasang high heels berwarna silver. Rambut sebahu yang biasa aku gulung-gulung tak jelas menggunakan sumpit atau pensil, kini dibuat ikal dan dibiarkan terurai. Wajah yang biasa polos tanpa make-up, kini tidak. Ada sentuhan bedak, blush-on, eye shadow, eyeliner, lipstick, mascara. Oh, nggak menyangka aku hafal juga nama-nama makeup.

Mungkin kalian heran mengapa aku berdandan seperti ini? Hmm… karena hari ini adalah hari wisudaku. Hari di mana aku telah lulus sebagai mahasiswa dan dinyatakan sebagai sarjana teknik. Dan hari ini adalah hari di mana aku harus memenuhi janji pada diriku sendiri, untuk menyatakan perasaanku yang sudah terpendam selama dua tahun. Pada kamu.

***


Pandanganku mengelilingi aula yang penuh dengan orang-orang. Mencari-cari sesosok yang sangat ingin kutemukan. Kedua bola mataku akhirnya berhenti pada sosok laki-laki tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Tidak tampan, tapi begitu berkharisma dengan kecerdasannya yang begitu tinggi. Laki-laki yang sedang sendirian di salah satu sudut ruangan. Memakai kemeja navy blue dibalut jas berwarna hitam. Pandangan laki-laki itu menerawang, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Laki-laki itu terlihat ingin menghindari dari keriuhan pesta wisuda ini untuk sejenak. Laki-laki itu, kamu.

Aku pun berjalan menghampiri kamu. “Ditra…” panggilku dengan suara perlahan.

“Eh, Fahrani.” ucapmu sambil tersenyum. Kamu memang sangat mudah tersenyum. Bahkan ketika kamu berbicara seperti biasa pun, seolah-olah kamu memang sedang tersenyum.

“Ditra, aku pengen ngasih ini.” Aku mengeluarkan selembar surat berwarna putih dari tas silver kecil yang kugenggam. Surat yang sudah sengaja aku tulis untuk diberikan kepada kamu. Surat berisi perasaan aku selama ini.

“Apa ini, Ran?” Tanya kamu heran sambil mengerutkan kening, namun tanganmu tetap menerima surat yang aku ulurkan.

“Aku sengaja bikin surat buat kamu sama teman-teman yang lain juga. Buat kenang-kenangan aja.” aku berbohong. Aku hanya menuliskan surat untuk kamu.

“Oh, pasti aku baca nanti.” ucap kamu, lagi-lagi sambil tersenyum.

“Satu lagi.” ucapku kemudian. Aku menarik nafas sejenak. menghembuskannya. Hatiku langsung mencelos. Tapi mau tidak mau, janji itu tetap harus aku ucapkan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau perasaan ini masih ada, akan aku ungkapkan pada kamu saat wisuda. “Makasih selama ini udah ada di hati aku…” ucapku dengan cepat. Aku langsung berbalik pergi meninggalkan kamu yang mungkin bingung dengan ucapanku barusan. Namun, langkahku ternyata masih kalah cepat. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang menahan lenganku, kamu.

“Tunggu!” seru kamu kemudian. Aku yakin kamu pasti membutuhkan penjelasan dari kalimat yang baru aku ucapkan.

“Enggak!” seruku. Aku berusaha melepaskan tanganmu yang mencengkram lenganku. Aku ingin pergi darimu secepatnya. Aku takut menatapmu. Aku takut menjelaskan.

“Fahrani tolong jangan pergi dulu. Aku butuh penjelasan dari pernyataan kamu tadi.” dengan tegas kamu berkata sesuai perkiraanku. Kamu memang butuh penjelasan.

“Nggak mau. Jangan paksa aku, Dit. Semua penjelasan bisa kamu baca di surat yang aku kasih.”

“Aku nggak mau. You must tell me, Fahrani. Jangan menghindar, please… Sekarang ikut aku.” Tiba-tiba saja kamu menarikku ke suatu tempat. Aku nggak bisa menolak. Takut pemberontakanku nanti malah mengundang reaksi orang dan merusak pesta. Ternyata kamu membawaku ke sebuah tempat di tepi danau yang terletak di belakang kampus.

“Sekarang udah nggak akan ada orang yang dengar. Jadi tolong perjelas dengan semua yang kamu katakan tadi.” kamu meminta dengan begitu tegas. Aku takut dan memilih untuk diam.

“Fahrani, tolong…”

“Aku sayang sama kamu…” dengan menyerah akhirnya aku mengungkapkan juga perasaan yang kupendam selama dua tahun itu. “Dua tahun aku pendam. Dua tahun aku simpan. Dua tahun aku tersiksa. Dua tahun aku sakit. Karena kamu.” entah sepertinya aku sudah meracau, mengungkapkan semua yang aku pendam selama ini.

Hening. Reaksimu hanya diam saja atas penjelasan yang kamu pinta dengan paksa. “Nggak ada reaksi apa-apa? Lebih baik aku pergi.” aku pun mulai melangkah pergi, dan lagi-lagi kamu menahan langkahnya.

“Kamu seneng banget ya langsung main pergi gitu!” seru kamu kemudian. Aku mendongak, menatap wajahmu dengan serius. Jantungku mulai berdegup tak karuan.

“Kamu nggak ada reaksi apa-apa.” ucapku kemudian.

“Karena aku tau…” sungguh ucapan kamu membuat aku kaget. “Iya, aku tau selama ini mungkin kamu ada perasaan sama aku. Tapi itu masih sekedar perasaan aku saja. Tapi aku kaget, kalau ternyata perasaan itu memang benar…”

“Aku takut…” ucapku pelan. Kepalaku kemudian menunduk. Sepasang telingaku kututupi dengan kedua tangan. Ingin sekali aku menangis saat itu juga, tapi tak mampu. Terlalu tinggi harga diriku untuk menangis di hadapan kamu.

“Fahrani…” kamu melepaskan kedua tanganku yang menutupi telinga. Kamu menatapku dengan sorot mata itu, sorot mata yang selalu membuat aku merona malu, sorot mata yang saat aku tatap membuatku refleks menundukan kepala.

”Aku juga sayang sama kamu…” ucap kamu dengan nada sungguh-sungguh, nada keseriusan, nada kejujuran.

Aku pun mendongak menatap wajahmu. Mencari-cari ekspresi bercanda dari wajahnya. Tapi tidak ada. Ucapan kamu adalah sungguh-sungguh dan serius. Pernyataan kamu benar adanya. Selama dua tahun aku menyukaimu, akhirnya kamu memiliki perasaan yang sama.

“Kamu sayang sama aku?” aku bertanya lagi untuk meyakinkan perasaanmu benar adanya.

“Iya, aku sayang kamu.” kamu mengangguk. “Tapi…” tiba-tiba saja kamu mengucapkan satu kata yang membuat aku penasaran. Ekspresimu berubah, seperti menyimpan rasa bersalah. Kamu terdiam sebentar, bingung antara ingin melanjutkan atau tidak.

“Tapi apa, Dit?” tanyaku penasaran. Mengapa ucapanmu harus terpotong?

But, we can’t be together. Aku sudah dijodohkan. Dan aku udah terlanjur menerimanya.” lanjut kamu kemudian.

Kalian tahu, rasanya seperti seseorang baru saja melepaskan pisau yang tertancap di dadamu, namun beberapa detik kemudian harus ditancapkan lagi. Lebih sakit. Dan sangat sakit tentunya.

“Lebih baik aku nggak pernah tau perasaan kamu, Dit. Kalau tau faktanya seperti ini. Atau bahkan lebih baik lagi kalau kamu nggak punya perasaan yang sama.” Air mataku memang sudah tak terbendung lagi. Rasa gengsi untuk tidak menangis di hadapan kamu runtuh sudah. Aku berbalik pergi dan kamu tak menahan lenganku lagi.

Sesaat aku menoleh ke belakang. Berharap kamu akan mengejarku. Berharap kamu akan memperjuangkan aku. Tapi aku hanya berharap, dan harapan hanya harapan. Ketika aku menoleh, yang kulihat kamu sedang membaca suratku. Dan aku berbalik pergi.

Dear Ditra…

Surat ini adalah surat kenang-kenangan dari aku. Salam perpisahan setelah kita akhirnya lulus dan wisuda. Saat kamu baca surat ini, mungkin kita nggak akan bertemu dalam jangka waktu yang cukup panjang. Aku sangat berharap seperti itu. Kenapa? Aku terlalu takut. Karena saat kamu membaca surat ini pun, kamu akan tahu dengan suatu fakta yang mungkin akan membuat kamu menjadi merasa tidak nyaman.

Selama kita empat tahun kuliah, banyak hal yang sudah kita lewati. Dan kamu tahu, ternyata dua tahun awal cukup membuat aku untuk sayang sama kamu selama dua tahun akhir ini. Sampai saat ini. Mungkin kamu nggak sadar, atau malah mungkin kamu memang sudah tahu.

Dua tahun. Waktu yang menurut aku nggak lama untuk memendam perasaan yang semakin lama malah semakin tidak memudar. Perasaan yang semakin aku berusaha untuk hilangkan, malah semakin kuat mengakar.

-Fahrani-

***

Tiga tahun kemudian…

“Saya pesan Latte satu.”

“Itu saja?”

“Satu lagi, saya ingin… cinta kamu.”

Aku mendongak menatap laki-laki berkacamata dengan frame tebal berwarna hitam di hadapanku. Topi yang dipakainya agak menutup mata, sehingga tidak terlalu jelas wajahnya. Aku menyipitkan mata, berusaha mengenali sesosok itu. Pasti laki-laki ini orang yang aku kenal. Tidak mungkin seseorang dari antah berantah tiba-tiba menginginkan cintaku. Hanya psikopat yang seperti itu. Dan laki-laki di hadapanku ini terlihat seseorang yang waras.

“Hmm…” aku bergumam sambil menatap laki-laki di hadapanku. Menenbak-nebak siapa dia sebenarnya. Parasnya seperti sudah tidak asing lagi baginya.

“Masih belum bisa nebak laki-laki ganteng dengan suara merdu di hadapan kamu ini?” ucap laki-laki itu kemudian sambil tersenyum. Suara itu. Senyum itu. Wajah itu. Laki-laki itu. Kamu.

“Ditra?!” seruku kemudian. “Kamu…”

Kamu langsung melepas topi yang kamu pakai. Merapikan rambut sesaat. “Gimana kabar kamu, Ran?”

“Aku… baik.” jawabku. Sejujurnya aku kaget, Dit. “Eh, duduk di situ yuk!” Aku kemudian menunjuk salah satu meja di sudut ruangan coffee shop ini.

Ya, akhirnya aku berhasil mewujudkan impianku dulu, yaitu membuka sebuah coffee shop. Walaupun coffee shop yang aku buka ini masih kecil-kecilan, belum terlalu besar apalagi semewah Starbuck.

Kita berdua lalu berjalan menuju meja yang aku tunjuk tadi kemudian duduk. “Oh iya, gimana kabar kamu, Dit?” Aku kemudian balik bertanya. Jujur saja, semenjak kejadian di danau dekat kampus tiga tahun lalu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Walau sekalipun. Aku takut, kalau kamu akan membahas hal itu. Lagipula untuk apa, toh kamu sudah bersama perempuan lain.

“Aku juga baik. Cuma masih ngerasa bersalah banget semenjak kejadian tiga tahun lalu.” jawab kamu. Bingo, ternyata kamu benar-benar akan membahas hal itu sepertinya.

“Udah, Dit. Aku nggak mau ngebahas hal itu lagi.” pintaku. Aku benar-benar ingin menetralkan perasaan aku untuk kamu.

“Tapi aku mau, Ran. Aku… aku udah mutusin perjodohan itu. Aku salah. Aku bodoh.” ucapmu kemudian. Suaramu bergetar, terdengar ada rasa bersalah yang begitu dalam dan ada rasa sakit yang begitu menghujam.

“Butuh tiga tahun untuk memikirkan betapa salahnya kamu dan betapa bodohnya kamu? Hah?” entah mengapa aku malah bersikap sedikit keras. Kulihat kamu terdiam dengan ucapanku barusan.

“Maafin aku…” ucap kamu setelah terdiam agak lama. “Aku butuh maaf kamu.”

 Tiba-tiba kedua tanganmu menggenggam tangan kananku. Tidak terlalu erat, tapi aku merasakan seolah-olah kamu tak ingin melepaskan. Dan entah aku merasakan ada sesuatu di genggamanku. Aku melepas genggamanmu. Kulihat ada selingkar cincin emas putih di telapak tanganku. Cincin sederhana.

“Aku hanya mengenal happy ending, kalau kisah kita belum happy, berarti itu belum ending.” ucapmu kemudian saat melihatku yang begitu kaget dengan cincin yang kamu berikan itu. Aku mendongak menatap kedua matamu. Tapi pandanganku tak jelas, dibuat kabur oleh air mata yang menggenangi.

“Fahrani Alleyda. Aku pengen kamu jadi pendamping hidup aku sampai aku mati. Jadi ibu dari anak-anakku nanti.” tiba-tiba saja kamu mengambil cincin dari telapak tanganku, kemudian memasukkan ke jari manis kiriku.

“Seenaknya aja kamu masukkin cincin ke jari aku. Emangnya aku udah…” tiba-tiba saja mulutku terbungkam. Tak bisa melanjutkan kata-kata yang hendak aku ungkapkan. Kamu membungkam ucapanku, dengan bibirmu.

“I know you still love me…” 

"Cerpen ini diikutkan pada lomba Arisan Cerpen Romantis - Café Rusuh."

2 comments:

  1. hahahaha,,, settingnya itu lhoo..hmmm..

    ReplyDelete
  2. settingnya teringat danau galau di kampus yah, hahaha

    ReplyDelete