Wednesday, February 16, 2011

Fisika, I'm in Love

Ini saya posting salah satu cerpen yang saya buat waktu masih SMA. Jujur, masih cupu banget sih cerpenya, hahaha. Pernah saya kirim cerpen ini ke salah satu majalah remaja, tapi nggak menang, hehehe. Mungkin karena cupu kali ya. Just enjoy it, guys :)

***

Aku menatap hasil ulangan harian fisika yang baru dibagikan oleh Pak Usman. Sebuah angka tiga tertera di sana, seolah-olah menertawakanku dengan tawa mengejek.
“Kelas 3 IPA 7, Bapak ingin bicara. Kalian ini sudah kelas 3, sebulan lagi kalian akan menghadapi Ujian Nasional. Bapak harap kalian udah mulai serius untuk belajar.” Kata Pak Usman menasihati kami.
Aku mendengarnya dengan seksama, mulai menyadari bahwa aku benar-benar harus serius untuk belajar. Selama ini, aku terlalu sibuk untuk mengurusi ekskul futsal, sehingga pelajaranku terbengkalai, terutama fisika.
“Untuk yang nilainya masih kurang memuaskan.” Pak Usman menatapku, dan aku langsung menunduk. “Kalian harus benar-benar giat lagi belajarnya. Manfaatkan waktu yang ada. Bapak nggak mau kalau ada dari kalian yang nggak lulus. Bapak hanya berharap, kalian bisa lulus semua.” Ucap Pak Usman mendoakan kami.
“Amiin...!!!” teriak kami semua. Pak Usman tersenyum.
Tak lama, akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Anak-anak mulai membereskan alat-alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, ketua kelas memimpin doa.
“Selamat siang!” Pak Usman mengucapkan salam setelah doa selesai.
“Selama siang, Pak!” jawab kami semua. Pak Usman lalu keluar kelas. Diikuti anak-anak yang juga ingin cepat-cepat pulang.
Aku pun keluar kelas dengan tersenyum. Semangat baru telah muncul.
***
Malam harinya, aku menuju kamar tidur mama. Berniat untuk memberitahunya mengenai nilai ulangan fisikaku yang nilainya ancur banget.
“Ma, Via dapet nilai jelek nih ulangan fisikanya.” kataku langsung membuka pintu kamar tidur mama tanpa mengetuk pintu dahulu. Kulihat mama sedang membaca majalah wanita di kamar tidurnya. Aku membaringkan tubuhku di sampingnya.
“Emang dapet nilai berapa?” tanya mama. Matanya masih tertuju pada majalah.
“Delapan.” jawabku. Kulihat mama langsung mengalihkan matanya kepadaku dan menutup majalahnya. Keningnya berkerut.
“Delapan? Delapan kok dibilang jelek? Itu kan udah lumayan.” kata mama heran.
“Iya, tapi angka delapannya lagi nguap, Ma. Alias tiga.” Ucapku menjayus sambil tertawa.
“Dasar kamu! Makanya belajarnya yang rajin. Kamu kan bentar lagi mau ujian.” Mama mengomeliku.
“Iya, Via salah. Tapi Ma, Via mau les privat fisika.”
“Les privat? Tumben, biasanya kalo mama nawarin, kamu langsung tolak.”
“Itu kan dulu. Sekarang Via mau belajar serius, Ma. Kata guru Via, belum terlambat kok untuk belajar serius.” Kataku mengingat perkataan Pak Usman tadi di sekolah. Kulihat mama tersenyum.
“Iya deh, entar Mama cariin guru les privat buat kamu.” Ucap mama.
“Makasih Mama. Oh iya, kalo bisa gurunya yang ganteng ya, Ma!” pintaku sambil tersenyum.
“Enak aja, nanti bukannya belajar, kamu malah asyik liatin gurunya.”
“Hehe.”
“Pokoknya kamu tenang aja, Mama bakal nyariin guru yang bagus buat kamu.” Ucap mama. “Ya udah, kamu belajar sana.”
“Oke, dah mama.” Aku keluar dari kamar tidur mama menuju kamar tidurku untuk mulai belajar. Benar-benar belajar serius.
***
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, aku langsung menghampiri tempat tidurku. Tubuhku terasa capek banget, setelah menjalani try out yang diadakan oleh sekolah. Baru saja mataku terpejam beberapa menit, tiba-tiba mama memanggilku.
“Via, mama pulang nih! Bawa guru les buat kamu.” Seru mama sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Aku beranjak dari tempat tidur. Seragam sekolah masih membalut tubuhku dan rambutku sudah pasti lagi acak-acakan. Aku lalu membuka pintu. “Via, kenalin, ini guru les kamu.” Mama memperkenalkan seorang laki-laki padaku. Tubuhnya tinggi menjulang, namun cenderung kurus. Kulitnya putih—bahkan lebih putih dariku, tidak! Kacamata minus ber-frame warna biru tua menghiasi wajahnya yang oriental. Ia memakai T-shirt bermotif stripes biru muda dan putih dipadu dengan celana jeans panjang hitam. Namun yang pasti, laki-laki itu nggak asing di mataku.
“Ardan?!” seruku kaget. Ardan adalah salah satu murid pandai di sekolahku. Entah sudah berapa kali dia menyumbangkan piala untuk sekolah dalam mengikuti olimpiade fisika.
“Lho, kalian sudah kenal?” tanya mama heran.
“Iya, Tante. Kami satu ekskul futsal, tapi nggak sekelas sih...” ucap Ardan menjawab pertanyaan mama. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal, membuat rambutku terlihat semakin berantakan.
“Kalo gitu, Ardan duduk dulu ya.”
“Iya, Tante.”
“Via, ganti baju dulu sana!” perintah mama padaku. Aku yang masih kaget hanya melongo lalu tersadar dan langsung masuk kamar, mengganti seragamku dengan T-shirt dan celana pendek hitam. Aku pun menyisir rambut. Setelah terlihat cukup rapi, aku keluar menemui Ardan sambil membawa alat tulis dan buku-buku.
“Sori ya lama nunggu?” ucapku saat menemui Ardan kembali. Ardan hanya tersenyum.
“Nggak kok.”
Aku kemudian duduk di sebelah Ardan. “Kok mama bisa kenal sama kamu, Dan?” tanyaku heran. Kalo tau yang bakal jadi guru lesnya Ardan mah, mending langsung minta tolong aja sama dia.
“Aku anak teman mama kamu.” Jawab Ardan.
“Oh...” aku mengangguk-anggukan kepalaku.
“Kita mulai belajarnya, bab mana yang paling kamu nggak ngerti?”
“Dari bab pertama.” Jawabku.
Ardan lalu menerangkan materi bab pertama. Setelah itu, Ardan memberikan soal pilihan ganda kepadaku yang jumlahnya 30 soal.
“Kerjain soal-soal ini, tapi pake cara. Jawab aja yang kamu bisa, untuk ngukur kemampuan kamu sampai mana.” Kata Ardan. Aku mengangguk mengerti lalu mulai mengerjakan soal-soal itu. Ternyata, aku hanya bisa menjawab 10 soal. Ya ampun, setengah dari soal itu aja nggak ada. Itu juga nggak tau bener apa nggak ngisinya. Aku menyerahkan lembar jawabku pada Ardan. Ia mengoreksinya. Ternyata cuma bener delapan.
“Ternyata, kamu masih banyak yang belum ngerti.” Ucap Ardan. Ia lalu mulai membahas semua soal yang ia berikan padaku sebagai latihan. Setelah dengan sabarnya mengajariku yang lemot ini, akhirnya selesai juga. Waktu juga berjalan terasa lebih cepat. Tahu-tahu saja sudah terdengar adzan maghrib. Setelah sholat maghrib di rumahku, Ardan berpamitan pulang.
“Makasih ya, Dan!” ucapku.
“Sama-sama. Aku pulang dulu ya, Vi.” Ardan berpamitan padaku. “Tante, Ardan pulang dulu, ya!” kemudian berpamitan pada mama.
“Hati-hati ya, Dan, bawa motornya. Jangan ngebut lho!” pesan mama. Mama ini care banget sih sama Ardan.
“Makasih, Tante.” Ardan lalu memakai helm dan men-starter motornya. Kemudian melesat pergi. Aku dan mama kembali ke dalam rumah.
“Gimana tadi belajarnya?” tanya mama.
“Via ngerti banget, Ma, diajarin sama Ardan.” Ucapku memuji Ardan.
“Kalo gitu, Mama nggak salah pilih dong.” Kata mama. Aku mengangguk.
“Ma, intensif sama Ardan berapa minggu sekali?” tanyaku.
“Tujuh kali seminggu.”
“Tujuh kali seminggu? Tunggu, berarti... setiap hari dong?” Mama mengangguk. “Kok tiap hari sih, Ma? Ih, Mama...”
***
Hari demi hari kulalui dengan lebih banyak belajar. Terutama dengan intensif bersama Ardan. Tidak seperti teman-temanku yang kebanyakan lebih memilih belajar di bimbel-bimbel. Hubunganku dengan Ardan juga bertambah dekat. Yang awalnya hanya teman biasa, bahkan ngobrol bareng aja jarang, kini kami sangat dekat.
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa, hari ini adalah hari terakhir dia memberikanku intensif.
“Huh, nggak kerasa ya, besok udah UN...” kataku saat Ardan selesai mengajariku. Kami mengobrol-ngobrol.
“Iya. Kamu ngerti kan apa yang selama ini aku ajarin?”
“Ngerti. Malah lebih ngerti diajarin sama kamu, Dan.” Ucapku memujinya.
“Bisa aja...” Ardan terlihat malu. Dia kegeeran.
“Oh iya, kalo nanti lulus kamu mau nerusin ke mana?” tanyaku mengganti topik pembicaraan.
“Aku udah keterima beasiswa UI, jurusan Teknik Elektro.” Jawab Ardan.
“Ih, Ardan keren. Emang pengumumannya kapan? Kok aku nggak tau ya.”
“Kalo nggak salah, sekitar 2 minggu yang lalu. Kalo kamu, mau nerusin ke mana?” gantian Ardan yang bertanya padaku.
“Aku sih apa aja, asal favorit. Jurusannya pendidikan dokter.” Jawabku.
“Dokter? Ciee... ada calon Bu Dokter nih.” Ardan menggodaku. Aku tersenyum. “Kenapa pengen kedokteran?” tanya Ardan.
“Ngewujudin keinginan papa.” Jawabku. “Sebelum meninggal, papa pengen banget aku jadi dokter. Karena dokter adalah cita-cita papa yang nggak terwujud. Tadinya aku nggak mau. Soalnya dokter itu kan sekolahnya lama. Nanti, kapan aku nikahnya?” ucapku. Ardan tersenyum sesaat mendengar ucapanku. ”Tapi, setelah papa meninggal, aku mikir, apa salahnya sih kalo ngebahagiain orang tua.” Ucapku sedih.
“Vi, aku mau ngasih ini ke kamu?” tiba-tiba Ardan mengeluarkan sebuah kalung berwarna merah. Tapi kalung itu lebih mirip tali. Di kalung itu tergantung sebuah cincin.
“Buat aku?” tanyaku heran.
“Iya, supaya kamu beruntung pas UN.” Ucap Ardan.
“Cincinnya, bukan emas kan?” tanyaku. Ardan menggeleng.
“Bukanlah. Keenakan kamunya kalo aku beliin cincin emas. Itu dari uang logam.” Jawab Ardan.
“Serius buat aku?” tanyaku tak yakin. Ardan mengangguk. “Makasih ya...” Aku langsung memasang kalung itu ke leherku. Tapi ternyata, cukup susah bagiku memakai kalung tanpa dibantu.
“Sini aku bantu.” Ardan langsung menawarkan diri.
“Makasih, Dan.” Ucapku setelah Ardan memakaikan kalungnya di leherku.
“Sama-sama.”
“Semoga kita berhasil pas UN nanti.”
“Dan kita lulus.”
***
Akhirnya... ujian selesai juga. Seminggu penuh derita ini akhirnya selesai juga. Aku hanya berharap semoga kami semua lulus.
“Via, gimana?” tanya Ardan, yang tiba-tiba menghampiriku setelah aku keluar dari ruangan.
“Alhamdulillah.” cuma itu yang bisa aku katakan. Ardan tersenyum. “Ini semua berkat kamu. Kalo nggak ada kamu yang ngajarin aku. Aku nggak tahu harus gimana.”
“Nggak, itu semua berkat Tuhan dan diri kamu sendiri. Aku cuma perantara aja.” Jawab Ardan merendah. Aku tersenyum dan mengangguk. Ardan emang benar. Kalau aku nggak punya semangat, kemauan, dan mimpi. Itu semua juga bakal sia-sia.
“Makasih, Dan.” Kataku. Entah harus berapa banyak terima kasih yang harus kuberikan pada Ardan.
“Nggak mau, sebelum kamu... mau jalan sama aku.”
“Jalan? Ke mana?”
“Ada deh, surprise pokoknya.”
“Tapi aku harus bilang mama dulu.”
“Tenang aja, aku udah bilang kok...”
“Bener?” tanyaku tak yakin. Ardan mengangguk mantap. “Ya udah, yuk!” entahlah, tiba-tiba saja aku langsung menggenggam tangan Ardan. Kulihat bibirnya menyunggingkan senyuman.

4 comments:

  1. aheeey..
    ada pak usman segala.
    hihihii.. :)

    ReplyDelete
  2. hehehe, abis pak usman memberikan kesan mendalam, hahaha

    ReplyDelete
  3. super sekali!
    hahaha...

    bagus piit..
    lanjutkan hobi menulismu.
    bikin blog khusus cerpen aja,biar enak bacanya :D

    ReplyDelete
  4. wah klo mau bikin blog khusus cerpen masih susah mpikk, mood nulis cerpen blm tentu ada terus. hehehe

    ReplyDelete